Powered by Blogger.
Latest Post

Di Balik Keputusan AS Keluar dari UNESCO

Written By PT Kontak perkasa Futures Yogyakarta on Thursday, October 19, 2017 | 9:33 AM

PT Kontak Perkasa Futures - Donal Trump belum genap setahun memimpin Amerika Serikat. Akan tetapi sudah ada tiga keputusan kontroversial untuk menarik diri dari kerja sama multilateral: Kemitraan Trans-Pasifik, Perjanjian Paris dan yang terbaru yaitu keluar dari badan PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan (UNESCO).

Keanggotaan AS di UNESCO akan resmi selesai setelah 31 Desember 2018. Pemerintahan Trump beralasan bahwa bias anti-Israel sudah terlalu kental di UNESCO. Amerika meminta agar organisasi tersebut segera melakukan perubahan mendasar jika ingin AS kembali menjadi anggota penuh.

Kisruh soal Israel yang menjadi sekutu terdekat Amerika itu mulai dari 2011 saat UNESCO menerima Palestina menjadi anggota UNESCO. Amerika merespons keputusan itu dengan membekukan dananya untuk organisasi tersebut. Pembekuan itu malah menghasilkan tunggakan di UNESCO yang juga menjadi salah satu pemicu hengkangnya Amerika.

“Kami mendapat tunggakan sebesar 550 juta dolar AS lebih. Jadi pertanyaannya adalah, apakah kami bakal membayar uang itu?” Heather Nauert, juru bicara Departemen Luar Negeri Amerika.

Selain itu, badan PBB ini mengadopsi resolusi tanpa menyertakan warga Yahudi menyangkut salah satu tempat suci di Yerusalem pada tahun lalu. Yang terbaru, berdasarkan usulan Palestina, UNESCO menetapkan Kota Tua Hebron di Tepi Barat sebagai Warisan Dunia yang harus dilindungi pada Juli lalu.     

Situs itu dianggap suci oleh orang Yahudi, Kristen, dan Muslim. Israel tak menerima keputusan tersebut sebab dengan diakuinya Hebron sebagai kota Palestina, yang mengacu pada kota Palestina dinilai sebagai upaya untuk menolak karakter dan warisan Yahudi dari beberapa situs utama di wilayah tersebut.

Sedangkan bagi Palestina, Hebron perlu dilindungi sebab Israel kerap melakukan beragam pelanggaran mulai dari vandalisme hingga perombakan bangunan di Kota Tua itu. Resolusi Hebron ini menjadi sebuah kemenangan diplomasi bagi Palestina. Sehingga Israel menuduh keputusan UNESCO politis.

Duta Besar AS untuk PBB Nikki Haley mengungkapkan hal senada. Haley menyampaikan bahwa keputusan UNESCO merupakan sebuah tindakan bodoh.

"Tujuan UNESCO bagus," kata Nikki Haley dalam sebuah pernyataan. "Sayangnya, politisasi ekstremnya menjadi hal yang sangat memalukan."

Isu politisasi UNESCO pada dasarnya pernah dihembuskan AS saat keluar dari UNESCO pada 1984. Alan D. Romberg, juru bicara Departemen Luar Negeri AS saat itu, mengklaim bahwa keputusan keluarnya Paman Sam disebabkan manajemen yang buruk dan nilai-nilai yang bertentangan dengan Paman Sam. Dirjen UNESCO saat itu, misalnya, disebut-sebut mendukung pembatasan kebebasan pers.

Meski memilih keluar pemerintah Amerika berkomitmen untuk tetap melakukan kerja sama internasional dalam program-program UNESCO. Hal yang sama yang juga dilakukan oleh pemerintahan Trump bahwa AS akan terus memberikan perspektif dan keahliannya kepada UNESCO, namun sebagai pengamat non-anggota.

Jika sekarang AS menggunakan isu bias anti-Israel, maka saat keluar pada 1984 isunya adalah anti-Amerika. Hal itu dilakukan sebagai bentuk “demonstrasi” atas UNESCO salah satunya karena berbagai masukan AS soal kebijakan, program hingga pengaturan anggaran tak ditanggapi UNESCO.

“Kebijakan UNESCO selama beberapa tahun telah melayani tujuan politik anti-Amerika,” kata Gregory J. Newell yang saat itu mengepalai Departemen Luar Negeri Amerika untuk urusan Organisasi Internasional.

Saat itu Amerika tak hanya bermasalah dengan UNESCO namun juga dengan Badan Energi Atom Internasional, Badan Pangan dan Pertanian, Organisasi Buruh Dunia, Badan Lingkungan PBB dan Serikat Telekomunikasi Internasional. Menurut Newell, pada akhirnya agensi-agensi tersebut mengubah kebijakannya: untuk memuaskan Washington.

Amerika kembali menjadi anggota UNESCO pada 2003 setelah adanya pergantian kepemimpinan pada 1999. Menurut Amerika, UNESCO telah membuat kemajuan yang signifikan dengan melakukan reformasi pada struktur manajemen. Kebebasan pers mulai diterapkan. UNESCO juga kembali pada misi utamanya.

“Sebagai simbol komitmen kita terhadap martabat manusia, AS akan kembali menjadi anggota UNESCO. Organisasi ini telah direformasi dan Amerika akan berpartisipasi sepenuhnya dalam misinya untuk memajukan hak asasi manusia dan toleransi dan pendidikan," ujar Presiden Amerika yang saat itu dijabat George W Bush.

Beberapa anggota UNESCO yang juga keluar karena alasan politik, misalnya Afrika Selatan menarik diri pada 1955. Inggris dan Singapura mengikuti jejak AS untuk meninggalkan organisasi tersebut pada akhir 1980-an, meskipun pada akhirnya semua kembali bergabung.

Menanggapi isu politisasi dalam UNESCO, Joshua Keating dari Slate berpendapat bahwa tuduhan bahwa UNESCO kini terlalu dipolitisasi dan meninggalkan misi utamanya bisa dibenarkan, tapi pada dasarnya tak ada hubungan dengan organisasi itu sendiri.

Menurut Keating, sebagaimana organisasi internasional lainnya, UNESCO adalah cerminan dari negara-negara yang bergabung di dalamnya, karena itu sulit dipercaya bahwa keluarnya AS akan cukup membantu mengatasi kekhawatiran Paman Sam terhadap isu-isu seperti anti-Israel dan anti-Amerika

Dampak Hengkangnya Amerika

Menanggapi hengkangnya Amerika, Aleanora Mitrofanova, mantan utusan Rusia untuk UNESCO menilai bahwa organisasi tersebut akan lebih baik tanpa kehadiran Amerika. Negara tersebut juga tak membayar iuran untuk UNESCO sejak 2011 dan keputusan ini sudah sejalan dengan keinginan Trump.

“Dalam beberapa tahun terakhir, mereka [Amerika] tidak berguna bagi organisasi ini [UNESCO],” ujar Aleanora.

Akan tetapi Presiden Majelis Umum PBB Miroslav Lajcák mengungkapkan kekhawatirannya dalam sebuah pernyataan yang disampaikan oleh juru bicanya. "Keputusan Amerika Serikat untuk keluar dapat berdampak buruk terhadap pekerjaan penting UNESCO," menurut pernyataan tersebut.

Pekerjaan UNESCO tak sekadar memberi label “Warisan Budaya Dunia” pada tempat-tempat tertentu. Organisasi ini memiliki misi untuk berkontribusi dalam membangun perdamaian dunia, pemberantasan kemiskinan dan dialog antarbudaya.

Program yang dijalankan UNESCO bertujuan menjaga keragaman budaya di dunia, mengatasi berbagai hambatan sosial dengan dialog, memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk pembangunan yang berkelanjutan serta mengupayakan agar masyarakat dunia memperoleh pendidikan yang berkualitas.

Dalam menjalankan program-program tersebut, UNESCO membutuhkan dana mencapai 667 juta dolar AS, berdasarkan laporan keuangan UNESCO 2016/2017. Dana paling besar dialokasikan untuk pendidikan sebesar 124 juta dolar AS, berikut untuk sektor sosial-budaya mencapai 92 juta dolar AS.

Sebelum menghentikan aliran dananya, setiap tahun Paman Sam menyumbang 70-80 juta dolar AS. Meski Rusia mengatakan UNESCO lebih baik tanpa Amerika, Irina Bokova, direktur jenderal UNESCO tetap menyayangkan keputusan Amerika tersebut.

"Absennya AS atau negara besar lain yang punya kekuatan adalah kehilangan bagi kami. Ini bukan sekadar urusan uang. Upaya mempromosikan cita-cita seperti pendidikan dan budaya adalah hal yang vital bagi negara-negara seperti AS," katanya.

Tak dapat dipungkiri, keputusan-keputusan yang dikeluarkan oleh negara besar seperti Amerika juga dapat mempengaruhi kebijakan anggota lain terutama sekutu dekatnya. Misalnya Israel yang juga langsung memutuskan akan keluar dari UNESCO.

Ini akan jadi pukulan keras bagi UNESCO. Kendati demikian, berdasarkan pernyataan pemerintah Amerika, keputusan ini dapat berubah dan mungkin AS akan kembali menjadi anggota. Soal kapan, hanya Donald Trump yang tahu - PT Kontak Perkasa Futures
Sumber:tirto.id
Written by: Kontak Perkasa Futures
PT.Kontak Perkasa Futures, Updated at: 9:33 AM

Inggris juga Tunggangi G30S untuk Gulingkan Sukarno

Written By PT Kontak perkasa Futures Yogyakarta on Thursday, October 12, 2017 | 11:38 AM

Kontak Perkasa Futures - Pada musim gugur 1965 Norman Reddaway diundang kepala Kementerian Luar Negeri Inggris Joe Garner ke kantornya. Reddaway masih muda, tapi kariernya di bidang propaganda terbilang moncer di antara rekan-rekan satu divisinya di Kementerian Luar Negeri Inggris. Garner kemudian menyerahkan Reddeway segepok uang bernilai 100.000 poundsterling sekaligus tugas “untuk melakukan apa pun yang bisa dilakukan untuk menyingkirkan Sukarno”.

Reddeway diterjunkan ke Singapura, lebih tepatnya di Phoenix Park, markas gabungan antara Kementerian Luar Negeri Inggris, Badan Dinas Intelijen Rahasia Inggris (SAS atau M16), dan Badan Intelijen Pusat AS (CIA). Ketiganya bersama-sama menjalankan operasi rahasia dengan misi utama propaganda anti-Sukarno sejak awal 1960-an. Pangkal persoalannya, papar Paul Lashmar dan James Oliver di buku Britain's Secret Propaganda War 1948-77, adalah sumber daya alam.

Lashmar menulis bahwa salah satu faktor mengapa Indonesia bisa memperoleh kemerdekaan dari Belanda pada tahun 1949 adalah karena pemerintah AS menganggap Indonesia di awal kemerdekaan bukan sarang komunis. Pasukan Belanda juga dianggap lebih efektif diterjunkan ke Eropa bagian barat. Prediksi ini tentu menemui kekeliruannya dalam beberapa tahun setelahnya, terutama berkenaan dengan bangkitnya Partai Komunis Indonesia (PKI) dan gerakan kiri lain.

Indonesia punya nilai strategis bagi Inggris dan AS, baik secara ekonomi maupun geografis. Inggris kala itu punya kepentingan bisnis di Indonesia termasuk 40 persen saham atau sekurang-kurangnya 100 juta poundsterling di Royal Dutch Shell yang mengontrol tiga per empat produksi minyak sebelum perang. Pada tahun 1959 investasi Inggris di Indonesia sudah mencapai 300 juta poundsterling. Secara geografis, Selat Malaka dinilai penting untuk Inggris dan AS untuk kepentingan rute kapal perang.

Sukarno punya visi yang didukung banyak orang di Indonesia: penguasaan sebagian besar kekayaan alam di bawah tangan negara. Tak lama usai proklamasi kemerdekaan, Sukarno telah memulai proses tersebut misalnya dengan menasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda atau membuat peraturan terkait pengelolaan tanah dalam rangka reforma agraria. Pada awal 1950-an, Sukarno dan kebijakan nasionalis-radikalnya menjelma menjadi sosok yang mengancam investasi negara-negara Barat di bumi nusantara.

Pada 1952 keyakinan AS makin bulat: jika Indonesia jatuh ke pengaruh komunisme, negeri-negeri jirannya seperti Malaya juga akan ikut-ikutan merah. AS dan Inggris tak mau ini terjadi sebab keduanya akan “kehilangan pasokan utama sumber daya alam seperti karet, timah, minyak bumi, dan komoditas penting lainnya".

Bukti pertama keterlibatan Inggris dalam penggulingan Sukarno muncul dalam memorandum CIA bulan Juni 1962 yang berisi obrolan antara Perdana Menteri Inggris Harold Macmilan dan Presiden John F. Kennedy dalam sebuah pertemuan. Pertemuan yang dilakukan pada bulan April tahun yang sama melahirkan persekongkolan untuk “melenyapkan Presiden Sukarno, tergantung situasi dan kesempatan yang ada.”

CIA sempat bingung dengan istilah “melenyapkan”. Sementara agen senior M16 mengklarifikasi bahwa maknanya bukan pembunuhan, tapi lebih ke menghilangkan status kekuasaan.

Permusuhan Inggris terhadap Sukarno memuncak pada era Konfrontasi Indonesia-Malaysia. Sukarno menuduh pembentukan Federasi Malaysia sebagai plot neo-kolonialisme Inggris, dan kemudian memutuskan hubungan diplomatik kedua negara serta melancarkan serangan darat dengan semangat “Ganyang Malaysia!”.

Penyingkiran Sukarno juga bukan 100 persen keinginan Barat. Ketua Komisi Selandia Baru untuk Federasi Malaysia, Hunter Wade, menyatakan bahwa Soeharto dan elite militer lain punya cita-cita serupa, namun belum menemukan momen yang tepat. Sukarno masih punya dukungan kuat dari rakyat Indonesia. Koresponden BBC Roland Challis berkata bahwa situasi jelang pertengahan 1960-an membuat banyak pihak baik di dalam maupun luar Indonesia berharap munculnya chaos untuk kemudian dimanipulasi demi kepentingan mereka.

Menurut seorang sumber dari Kementerian Luar Negeri Inggris, keputusan untuk menyingkirkan Sukarno diinisiasi oleh pemerintahan MacMillan dan direalisasikan sejak pemerintahan Partai Buruh pada 1964. Dalam menjalankan misi dari Phoenix Park, yang disebut-sebut sebagai pusat pemerintahan Inggris di Asia Tenggara, IRD yang bekerja sama dengan CIA menjalin hubungan erat dengan beberapa elite militer Indonesia. Salah satunya dengan Ali Murtopo, tokoh intelijen penting kesayangan Soeharto di era Orde Baru, melalui kantor Kedutaan Besar Inggris di Indonesia.

IRD dibentuk oleh pemerintah Partai Buruh Inggris pada 1948 untuk melancarkan perang propaganda antikomunis melawan Soviet, tapi kemudian juga terlibat dalam pelbagai operasi memberangus gerakan-gerakan antikolonial di wilayah-wilayah yang dikuasai Kerajaan Inggris. Pada 1960-an IRD memiliki sekitar 400-an staf di London dan petugas informasi di seluruh dunia untuk memengaruhi liputan media lokal maupun internasional agar sesuai kepentingan Inggris.

Dua Fase Penyingkiran Sukarno
Fase pertama penyingkiran Sukarno adalah mengisolasinya dari kekuatan besar PKI. Selama PKI berjaya, yang saat itu diklaim memiliki tiga juta anggota dan otomatis menjadi partai komunis non-penguasa terbesar di dunia, Sukarno masih punya basis pertahanan yang solid.

Kesempatan itu kemudian datang pada akhir September 1965 ketika usaha kudeta yang dikenal sejarah sebagai G30S. Ada beberapa versi terkait siapa dalangnya, tetapi situasi ini dimanfaatkan Soeharto untuk mengkambinghitamkan PKI sepenuhnya dan diikuti represi penuh para tertuduh.

Inggris pun menunggangi G30S untuk kepentingan pokoknya yang kebetulan selaras dengan visi Soeharto. Pada tanggal 5 Oktober Alec Adams, penasihat politik untuk Panglima Tertinggi Kerajaan Inggris untuk urusan politik Asia Timur hingga Tenggara, menasihati Kementerian Luar Negeri Inggris agar tak ragu untuk melakukan apapun agar PKI dibuat sebersalah mungkin dalam tragedi G30S, baik di mata kaum militer maupun rakyat sipil Indonesia.

Kementerian Luar Negeri Inggris setuju dan melakukan misi ini dengan dua tema propaganda besar. Satu, bahwa PKI itu kejam. Dua, bahwa ada intervensi Cina dalam pergerakan PKI di Indonesia. Untuk propaganda pertama, IRD dan M16 melalui media lokal dan internasionalnya rajin menyebarkan kisah horor tentang manuver kelompok komunis militan dalam mengganggu kestabilan wilayah Malaya pada 1950-an. Tak lupa juga narasi tentang dampak dari aksi radikal komunis yakni menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar dari kalangan orang-orang lokal.

Untuk propaganda kedua, tujuan utama IRD dan M16 adalah agar orang-orang keturunan Cina di Indonesia diasosiasikan dengan PKI. Dampaknya, mereka turut jadi sasaran utama perburuan selama periode 1965-1967 di sejumlah wilayah Indonesia yang mengorbankan nyawa antara 500.000 hingga dua juta orang.

Challis mengatakan hasil dari propaganda tersebut amat berhasil sehingga perburuan simpatisan komunis selama periode kelam itu tak ada bedanya dengan konflik antar-etnis.

“Hal mengerikan telah dilakukan (Inggris) untuk menghasut orang Indonesia bangkit dan membantai orang-orang Cina,” katanya.

Usai sukses diisolasi, fase kedua dalam misi penyingkiran Sukarno adalah penajaman citra bahwa sang pemimpin besar punya hubungan mesra dengan PKI, sehingga otomatis muncul kaitan bahwa Sukarno juga terlibat dalam kudeta berdarah G30S.

IRD dan M16 sudah punya modal penghancuran nama Sukarno di dunia internasional sejak sebelum kudeta terjadi. Mereka tinggal mengencangkan lagi mesin propagandanya. Ditambah, penggerusan kelompok komunis baik secara struktural maupun kultural juga turut membuat posisi Sukarno kian rawan.

Cita-cita Inggris akhirnya terwujud setahun setelah huru-hara kudeta, tepatnya pada 10 Maret 1966 ketika Sukarno menandatangani penyerahan kekuasaan ke Soeharto. Sebagian sejarawan, termasuk Lashmar dan Oliver, menyebut peristiwa yang dinamakan SUPERSEMAR itu sesungguhnya menempatkan Sukarno sebagai pihak yang dipaksa tanda tangan.

Challis amat percaya Inggris memainkan peran besar dalam tergulingnya kekuasaan Sukarno, terutama dalam mempersuasi elite militer bahwa momen penantian mereka hadir bersamaan dengan tragedi G30S. Situasi kala itu, lanjutnya, dianalisis dan diatur dengan baik sehingga kesannya tidak ada manipulasi apalagi intervensi.

“Peristiwa itu adalah manipulasi ide, dan murni politik. Menurut pendapat pribadiku, tragedi itu dilakukan dengan amat cantik,” pungkasnya.

Rangkaian kisah selanjutnya sudah lumayan akrab dalam ingatan orang-orang: Orde Baru dirintis, Soeharto membuka keran investasi asing selebar-lebarnya, dan masa depan bisnis Inggris di Indonesia pun berhasil diamankan. Sukarno masih diperbolehkan menjabat sebagai presiden seumur hidup hingga 1967. Tiga tahun berselang, ia mengembuskan napas terakhir dalam status sebagai tahanan rumah - Kontak Perkasa Futures
Sumber:tirto.id
Written by: Kontak Perkasa Futures
PT.Kontak Perkasa Futures, Updated at: 11:38 AM

Usaha Menghentikan Hukuman Mati

Written By PT Kontak perkasa Futures Yogyakarta on Wednesday, October 11, 2017 | 10:19 AM



PT Kontak Perkasa Futures - Sejak 2003, 10 Oktober dirayakan sebagai Hari Antihukuman Mati. Hari itu dipilih oleh World Coalition Againts Death Penalty (WCADP) yang merupakan gabungan 180 organisasi dari berbagai negara.

Kongres Dunia Melawan Hukuman Mati pertama kali digelar pada 2001 di Strasbourg, Perancis. Kongres tersebut dicanangkan dan diorganisasikan oleh French NGO Together Against the Death Penalty. Kongres ini menghasilkan Deklarasi Strasbourg.

Merujuk laman worldcoalition.org, mereka menyepati berbagai isu pokok. Pada paragaraf 9 deklarasi tersebut disebutkan bahwa mereka bersepakat "menciptakan koordinasi lembaga dan juru kampanye di seluruh dunia yang tujuan pertamanya adalah untuk meluncurkan hari untuk penghapusan hukuman mati di seluruh dunia".

Setelah beberapa pertemuan persiapan di Paris dan Brussels, sebagian besar inisiator tersebut bertemu kembali di Roma pada 13 Mei 2002. Saat itu mereka secara resmi membentuk World Coalition Againts Death Penalty (WCADP). Tujuan dibentuknya organisasi ini adalah menguatkan advokasi penghapusan hukuman mati di seluruh dunia. Sejumlah organisasi masuk dalam WCADP, termasuk Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Indonesia.

Pada 10 Oktober 2003, koalisi internasional tersebut untuk pertama kalinya membuat Hari Antihukuman Mati Sedunia. Saat itu, koalisi berhasil menggalang kegiatan serupa pada tanggal yang sama di berbagai kota: dari Kanada, Perancis, Italia, Meksiko, hingga Belgia.

Menurut situsweb worldcoalition.org, pada 2005 kampanye tersebut meningkat dengan didukung 260 organisasi. Pada 2007, Dewan Uni Eropa akhirnya secara resmi menetapkan 10 Oktober sebagai Hari Eropa Melawan Hukuman Mati.

Dari sanalah 10 Oktober diperingati sebagai Hari Antihukuman Mati menyebar ke berbagai belahan dunia. 
Hukuman Mati bagi yang Ditinggalkan

Hukuman mati tidak hanya menghilangkan nyawa para terpidana mati, namun juga meninggalkan luka yang mendalam bagi keluarga dan saudara yang ditinggalkan. Fenomenanya beragam. Ada anggota keluarga yang mengalami stres dan depresi. Tidak hanya terjadi pada orang dewasa, jika yang menjadi terpidana mati adalah seorang ibu, anak-anaknya kerap malu, mengucilkan dari dari pergaulan sosialnya, sampai putus sekolah.

Menurut Laporan Pemantauan Dampak Hukuman Mati Terhadap Pekerja Migran dan Keluarganya yang disusun Komnas Perempuan, setidaknya ada 16 dampak hukuman mati bagi keluarga. Salah satunya adalah anak dipaksa melupakan orang tua yang menjadi terpidana mati.

“Misalnya satu buruh migran yang terancam hukuman mati di Cina, anaknya dipaksa melupakan ibunya. Ketika kami bertemu dengan ibu dari anak perempuan ini, dia mewanti-wanti jangan bicara, dan jangan sekali-kali menyebut nama si ibu,” ujar Yuni Asri, pegiat Komnas Perempuan, seraya memberikan pemaparan terkait dampak hukuman mati bagi keluarga dalam acara "A Day For Forever”.

Menurut Yuni, para orang tua yang menjadi terpidana mati kerap takut mengungkapkan masalah yang menimpa mereka jika anaknya bertanya. Di sisi lain, ketika pihak anak tahu, mereka malah merasa bersalah karena tidak bisa menyelamatkan orang tuanya.

“Saya merasa bersalah karena enggak bisa membela orang tua. Umi (ibu) kerja baik-baik, cari duit halal kenapa jadi begitu. Di sini orang kerja jadi pelacur malah sehat dan baik-baik saja. Rasanya ingin mati saja waktu itu,” ujar E, seorang anak dari R yang merupakan perempuan pekerja migran yang telah dieksekusi di Arab Saudi, seperti dikutip dari Laporan Komnas Perempuan.

Di Indonesia, sejak 1998 sampai 2016 ada 276 orang divonis hukuman mati. Sebanyak 210 orang di antaranya masih menunggu eksekusi dan 42 orang yang telah dieksekusi mati. Sedangkan menurut catatan KontraS, ada 50 terpidana terpidana hukuman mati yang telah dieksekusi dalam periode 1979-2007.

Komnas Perempuan juga mencatat ancaman hukuman mati yang membayangi para pekerja migran Indonesia. Per April 2015, ada 228 WNI terancam hukuman mati di berbagai negara: Arab Saudi 36 orang, Malaysia 168 orang, RRC 16 orang, Singapura 4 orang, Laos 2 orang, UEA 1 orang, Vietnam 1 orang.
Hilang: Dari Tanah, Perahu, Hingga Kasih Sayang

“Udah mau ajal, udah mau dibunuh, cuma ternyata ditunda, nggak tahu bagaimana, tidak jelas juga nasibnya. Grasi yang sampai sekarang sudah satu tahun lebih [diajukan] juga belum jelas. Belum ada tanggapan apa-apa dari pemerintah.”

Pernyataan tersebut dilontarkan Devy Cristha pada acara "A Day For Forever”. Dia adalah anak perempuan dari terpidana hukuman mati Merri Utami. Vonis tersebut jatuh kepada Merri lantaran kedapatan membawa 1,1 kilogram heroin di Bandara Sukarno-Hatta, Oktober 2001.

Awalnya Merri bekerja di Taiwan. Kemudian dia bertemu dengan Jerry. Laki-laki itu mengajak Merri liburan ke Nepal. Saat hendak pulang ke Jakarta, Merri diberi hadiah tas oleh Jerry. Tidak disangka, sesampainya di mesin pemindai barang bandara Soekarno-Hatta, tas tersebut ternyata berisi heroin. Merri dinyatakan bersalah oleh pengadilan dengan vonis hukuman mati.

Pada 2003 banding yang dia ajukan ditolak pengadilan. Pada 2016 Merri dipindahkan ke penjara Nusakambangan dan dikabarkan masuk dalam daftar terpidana mati yang akan dieksekusi pada tahun tersebut.

Kisah tersebut mungkin tidak akan diketahui Devy jika dia tidak menyimak berita perihal eksekusi terhadap ibunya di sebuah stasiun televisi.

“Saya tahu ibu saya mau dieksekusi dari TV, malah petugas Nusakambangan balik nanya ke saya. Loh mbak Devy belum tahu?” ujar Devy.

Tidak hanya persoalan informasi, Devy juga menghadapi penghakiman tertentu dari lingkungannya. Dampak seperti itu kerap melanda anak-anak terpidana mati. Laporan Komnas Perempuan mencatat anak-anak mengucilkan diri di lingkungan sosial dan juga menjadi malas sekolah  dan tidak mau ikut pelajaran karena menghindari pertanyaan alasan ibunya dihukum mati.

Lebih jauh lagi, dalam sejumlah kasus, Komnas Perempuan mengamati kasih sayang antara orang tua dan anak pun menjadi hilang. Beberapa anak bahkan belum pernah bertemu ibunya sejak kecil. Anak-anak itu pun seringkali marah dan menyalahkan ibu karena tidak tahu bahwa ibunya sedang berada dalam masalah besar.

“Hukuman mati seringkali justru mencerminkan ketidakadilan dan melahirkan kemiskinan baru. Sebab hukuman mati tidak hanya membawa akibat pada korban yang terzalimi, tetapi juga pada keluarga, khususnya anak-anak mereka,” tegas Komnas Perempuan dalam laporannya.

Yuni juga menuturkan siksaan batin yang dirasakan salah seorang ayah yang anaknya dipidana hukuman mati. Si ayah kerap mengalami mimpi buruk hingga kondisi kebugaran fisiknya menurun. Stigma “kegagalan menyelamatkan” pun menjalar kepada si ayah. Awalnya si ayah dipercaya sebagai kuncen (penjaga petilasan keramat desa). Tetapi akhirnya dia tidak dipercaya lagi karena dinilai tidak bisa menyelamatkan anaknya dari hukuman mati.

“Lalu dia bilang, saya nggak mau mati. Saya mau menunggu anak saya. Kalau mau dihukum, mending sekalian saja dipancung sekarang. Saya sudah tidak jadi kuncen lagi. Orang-orang kampung menganggap saya punya keahlian, punya ilmu, tapi saya tidak bisa menyelamatkan anak saya,” ujar Yuni mengucapkan ulang perkataan si ayah.

Yuni juga menuturkan dari 13 narasumber yang diwawancarai Komnas Perempuan, 12 orang di antaranya pernah pergi ke dukun. Mereka mesti merogoh kocek yang tidak sedikit. Sejumlah keluarga rela menjual tanah untuk bisa pergi ke dukun tersebut, sedangkan mereka yang tinggal di pesisir rela menjual perahunya. Tujuannya jelas: mencoba mencari jalan keluar melalui jalan mistis.

Teka Teki Efek Jera
Kebijakan hukuman mati masih diberlakukan karena dinilai memiliki efek jera. Dalam kasus Indonesia, kebijakan itu pun sulit dihapuskan karena masih mendapatkan dukungan yang sangat kuat dari publik, badan-badan pemerintahan dan organisasi keagamaan.

Anggara, pegiat Institut for Criminal Justice Reform, dalam wawancaranya kepada Tirto sempat menjelaskan asal-usul diterapkannya hukuman mati di Indonesia.

“Hukum itu dibuat pada 1915 dan diberlakukan pada 1918. Konteks kesejarahan dan politik dibalik hukuman mati ini yang tidak pernah dibahas oleh pemerintah kita. Mereka masih pakai warisan Belanda. Pemerintah selalu bicara kalau hukuman ini untuk efek jera. Dalam pembahasan revisi KUHP, itu selalu yang dibahas,” ujar Anggara.

Menurut Anggara asumsi efek jera yang dilekatkan pada hukuman mati probelamatis. Menurutnya selama ini tidak ada data yang valid untuk mengukur efek jera.

“Setelah eksekusi mati dilaksanakan, harusnya kalau ada efek jera pengguna narkoba turun, ini malah meningkat. Efek jera apa yang diharapkan? Untuk kasus teroris, bukan efek jera yang didapat, mereka [dan pendukungnya] malah [menganggap] mati syuhada,” ungkap Anggara seraya menegaskan relevansi efek jera - PT Kontak Perkasa Futures
Sumber:tirto.id
Written by: Kontak Perkasa Futures
PT.Kontak Perkasa Futures, Updated at: 10:19 AM

Yang Perlu Diketahui Supaya Kopi Aman di Perut

Written By PT Kontak perkasa Futures Yogyakarta on Monday, October 9, 2017 | 11:00 AM

Kontak Perkasa Futures - Kopi memiliki banyak manfaat. Mulai dari menurunkan risiko penyakit jantung sampai mengandung antioksidan yang bisa mencegah kanker. Kopi juga bisa berfungsi sebagai penghilang nyeri ringan.

Sayangnya, ada sekitar 40 juta orang yang tidak bisa minum kopi. Ini karena, kopi membuat perut mereka iritasi. Hal ini berarti, 40 juta orang tadi, tidak bisa mendapatkan manfaat dari kopi.

Kabar baiknya: Riset menemukan, jika meminum kopi membuat perut sakit, Anda bisa jadi meminum jenis kopi yang salah. Hal ini juga berarti, Anda tidak perlu membeli kopi khusus yang berlabel "low acid (rendah asam)."

Melansir Prevention, salah satu studi menemukan, kopi jenis dark-roast lebih mudah dicerna perut dibanding jenis light atau mild roasts. Ini karena, kopi dark-roasted mengandung kandungan khusus yang mencegah perut terpapar terlalu banyak asam.

Untuk studi ini, para peneliti mengambil sel tubuh yang meregulasikan sekresi asam di dalam perut, dan memaparkan merek pada beberapa jenis kopi: regular, dark-roast, mild, decaffeinated, dan low-acid.

Para peneliti menemukan senyawa berbeda dari jenis kopi yang berbeda, yang memang membuat sel tubuh memproduksi lebih banyak asam.

Jadi, jika perut Anda sering bermasalah setelah minum kopi, jenis dark-roast bisa jadi pilihan Anda. Kopi mana yang termasuk jenis ini? Berikut beberapa tips untuk mengetahuinya:

Beberapa perusahaan kopi cukup eksplisit dan menuliskan label pada produk seperti apa adanya, misal "medium roast" atau "dark roast." Perusahaan lain, menggunakan terminologi kopi untuk menjelaskan tipe panggangan (roast) kopi, dan seringnya nama itu bersifat geografis.

Kopi jenis medium dark-roast termasuk: Viennese, Full City, Light French, Continental, After-Dinner, dan European. Jenis yang lebih tinggi termasuk: French, Espresso, Italian, dan Turkish roast. Diikuti oleh Neopolitan atau Spanish roasts.

Salah satu keuntungan lain meminum kopi dark-roast adalah minim kafein, yang bisa memicu iritasi perut. Namun jika kafein terus mengganggu perut Anda, pilihlah kopi dark-roast decaf.

2. Perhatikan warnanyaBiji kopi awalnya berwarna hijau dan kemudian berubah jadi cokelat saat dipanggang. Biji kopi itu secara bertahap akan menjadi semakin gelap sampai akhirnya hampir menghitam, untuk jenis dark-roast paling gelap.

Jika Anda berbelanja di tempat yang memungkinkan Anda melihat biji kopi sebelum membelinya, Anda bisa mengetahui jenis kopi jika melihat dari warnanya - Kontak Perkasa Futures
Sumber:health.liputan6
Written by: Kontak Perkasa Futures
PT.Kontak Perkasa Futures, Updated at: 11:00 AM

zzzztttt.. Ini Trik 'Asyik' Bercinta di Rumah Sempit

Written By PT Kontak perkasa Futures Yogyakarta on Thursday, September 28, 2017 | 8:38 AM


PT Kontak Perkasa Futures - Tinggal di rumah kontrakan tentu tidak ada salahnya bila Anda baru saja menikah, sementara karir  belum sepenuhnya mendapatkan posisi strategis.

Hanya, yang jadi masalah apabila rumah kontrakan Anda yang sempit ini menempel dengan rumah kontrakan lainnya. Tak ayal, sedikit suara berisik saja sudah membuat tetangga mendengar Anda.

Wah, kalau sudah begini, tentunya Anda akan sedikit merasa kesusahan kala hendak beraksi seru di ranjang bersama pasangan. Bisa-bisa tetangga mendengar apa yang Anda lakukan. Tapi tidak perlu khawatir, agar kegiatan bercinta Anda berjalan lancar, simak trik-trik dari Rumah.com berikut ini.

Lakukan di bawah
Yap, alias di lantai. Jika memang lantainya keras dan nggak nyaman, pindahkan saja kasur Anda ke bawah untuk sementara.

Sebab meski ranjang Anda kuat, bukan jaminan selama bercinta ranjang itu tidak menimbulkan suara sama sekali, kan? Jangan sampai karena sedang panas-panasnya, tetangga harus mendengar suara gesekan ranjang. Bisa malu besar, tuh!

Nyalakan musik lembut
Ini juga salah satu cara yang aman yaitu dengan menyalakan musik lembut selama bercinta. Ingat, volumenya jangan dipasang terlalu kencang, melainkan cukup meredam suara desahan Anda.

Pasalnya, tembok kontrakan cenderung tipis, sehingga ada kalanya tetangga Anda dapat mendengar apapun yang Anda lakukan.

Lakukan di jam tertentu
Kegiatan bercinta yang dilakukan di pagi hari setelah subuh usai bukan ide yang bagus. Biasanya, penghuni kontrakan sudah bangun di pagi hari dan bersiap untuk menjalankan kegiatannya serta berangkat kerja.

Jika melakukan hubungan suami-istri di jam tersebut, dikhawatirkan bisa menimbulkan kegaduhan dan membuat Anda kurang nyaman. Lebih baik lakukan kegiatan bercinta di malam hari saat suasana tenang, misalnya setelah lebih dari jam 10 atau 11 malam.

Buat ruang yang lapang
Kontrakan seringnya tak terlalu penuh dengan barang, mengingat kontrakan umumnya tak terlalu luas. Untuk itu bercinta seharusnya tak selalu harus dilakukan di kamar.

Anda bisa menjalankannya di ruang keluarga dengan beralaskan karpet yang agak tebal ditambah selimut dan bantal. Matikan lampu, dan nyalakan lampu teras agar suasana menjadi temaram dan romantis - PT kontak Perkasa Futures
Sumber:properti.liputan6
Written by: Kontak Perkasa Futures
PT.Kontak Perkasa Futures, Updated at: 8:38 AM

Manfaat Daun Salam untuk Rambut Tebal yang Belum Diketahui

Written By PT Kontak perkasa Futures Yogyakarta on Tuesday, September 26, 2017 | 5:00 PM



PT Kontak Perkasa Futures - Memiliki rambut yang indah menjadi impian semua wanita. Sebagian wanita ingin memiliki rambut panjang dan tebal yang sehat. Namun, tidak mudah untuk merawat rambut dengan tipe seperti ini.

Jika Anda tidak merawatnya dengan baik, akan timbul permasalahan pada rambut yang berdampak pada penampilan Anda, seperti ketombe, rambut lembap, rambut bercabang dan rontok.

Bagi Anda yang memiliki rambut panjang dan tebal, Anda dapat melakukan perawatan sederhana dengan menggunakan bahan alami yaitu daun salam dan minyak kelapa. Kedua bahan dapur ini ternyata dapat membantu Anda merawat rambut dan membuatnya sehat dan bervolume.

Gunakan daun salam
Seperti yang dilansir dari situs Allwomanstalk, Rabu (30/8/2017), Anda dapat menggunakan daun salam yang dicampurkan dengan minyak kelapa untuk masker rambut. Ambil 4-5 lembar daun salam dan blender hingga hancur dan tiriskan. Kemudian tambahkan 2 sendok makan minyak kelapa ke dalam mangkuk yang sama, aduk dengan rata.

Setelah adonan tercampur rata, panaskan untuk sementara waktu, sampai hangat. Sekarang, masker rambut Anda siap digunakan. Saatnya Anda oleskan masker rambut ini secara menyeluruh dari akar ke ujung rambut.

Cara penggunaan
Oleskan masker pada rambut, menyebarkan secara merata dari akar ke ujung. Pijat kulit kepala Anda selama beberapa menit. Kemudian biarkan selama 15 menit.

Terakhir bilas rambut Anda dengan air hangat dan menggunakan shampo. Lakukan perawatan ini secara rutin minimal satu minggu sekali. Rambut panjang dan lebat Anda dapat terlihat lebih indah - PT Kontak Perkasa Futures
Sumber:lifestyle.liputan6
Written by: Kontak Perkasa Futures
PT.Kontak Perkasa Futures, Updated at: 5:00 PM

Perang Dunia III antara AS dan Soviet Gagal Karena Petrov

Written By PT Kontak perkasa Futures Yogyakarta on Friday, September 22, 2017 | 3:21 PM


PT Kontak Perkasa - Memasuki tahun 1983, Letnan kolonel Stanislav Yevgrafovich Petrov dari Pasukan Pertahanan Udara Soviet ditugaskan untuk memantau potensi serangan dari luar. Markasnya di komando satelit Serpukhov-15, dekat Moskow. Tugas Petrov menentukan kebijakan luar negeri Uni Soviet sebab ia bertanggung jawab memantau jaringan peringatan dini yang menyala jika ada serangan nuklir yang masuk ke teritori negaranya.

Jika benar-benar menyala, ia diperintahkan untuk segera menghubungi pusat komando militer Soviet, dan pemerintah akan melaksanakan strategi peluncuran serangan balik memakai rudal nuklir yang serupa. AS jadi perhatian khusus Petrov, mengingat kedua negara sedang panas-panasnya dalam melakoni perang dingin sejak berakhirnya Perang Dunia II.

Dini hari itu, tanggal 27 September 1983 atau 20 hari selang perayaan ulang tahunnya ke-47, komputer di hadapan Petrov menyalakan pemberitahuan bahwa satu rudal balistik nuklir dengan jangkauan antar benua sedang telah diluncurkan dan sedang dalam perjalanan dari AS ke Soviet. Satu menit setelahnya sirene berbunyi lagi, menandakan rudal kedua juga sedang mendekat. Pemberitahuan untuk kedatangan rudal ketiga, keempat, dan kelima juga datang setelahnya.

Situasinya kian menegangkan karena tanda “persiapan meluncur” telah berganti menjadi “serangan rudal”. Petrov berusaha menenangkan diri dengan menghisap rokok murahan yang ia genggam sedalam-dalamnya. Dalam pertimbangan pribadinya, tanda peringatan semacam ini barangkali sudah terjadi beberapa kali toh tak pernah berujung sebagai serangan militer sungguhan.

“Tak ada peraturan tentang berapa lama kami diizinkan untuk berpikir sebelum kami harus melapor jika telah terjadi sebuah serangan. Tapi kami pun tahu bahwa setiap detik penundaan amatlah berharga, bahwa pimpinan militer dan politik Uni Soviet perlu diberi informasi sesegera mungkin,” ungkap Petrov kepada BBC News.

“Yang harus kulakukan adalah meraih telepon dan menelpon komandan tertinggi, tapi aku tak bisa bergerak, rasanya seperti sedang duduk di penggorengan panas.”

Selain spesialis teknologi informasi (IT) seperti Petrov, Uni Soviet memiliki ahli-ahli lain yang juga ditugasi untuk mengawasi kemungkinan datangnya rudal dari AS dengan alat berbeda. Saat Petrov mengonfirmasi, mereka tak menemukan tanda-tanda serangan AS. Namun, mereka hanyalah pembantu. Protokol resmi jelas menyebutkan bahwa laporan inti tetap datang dari komputer Petrov.

Akhirnya Petrov memutuskan untuk benar-benar menelpon sang komandan. Namun, alih-alih memberitahu bahwa sang musuh bebuyutan telah resmi mendeklarasikan perang, ia justru menginformasikan bahwa terjadi kesalahan sistem pemantau satelit. Mengapa?

Petrov mempertimbangan bahwa jika AS benar-benar ingin menyerang Soviet, maka militer Paman Sam akan meluncurkan lebih dari sekadar lima rudal. Kemungkinan jumlahnya mencapai ratusan, katanya. Lebih lanjut, serangan ini juga akan dikonfirmasi oleh ahli IT Soviet lain, yang dalam kasus Petrov hari itu bilang tak mendeteksi kedatangan rudal. Apalagi Petrov tahu bahwa keandalan sistem satelit yang berada di bawah tanggung jawabnya itu sempat diragukan di masa lalu. Maklum, sistem baru.

Petrov tentu tak bisa yakin 100 persen. Ia mentok di angka 50 persen. Sisanya ia buktikan sendiri dalam dua puluh menit paling menegangkan dalam hidupnya. Setelah dua puluh menit itu berlalu dan tak ada ledakan nuklir, ia menghembuskan nafas lega. Beberapa tahun setelahnya diketahui bahwa sumber alarm palsu ternyata berasal dari fenomena langka di mana kesejajaran sinar matahari di awan tinggi di daerah Dakota Utara mengganggu penerimaan orbit satelit Molniya milik Rusia.

Kurang Diacuhkan Rusia, Justru Disanjung Amerika dan Dunia
 Pasca-kejadian tersebut Petrov dihujani pertanyaan dari atasannya. Namun setelah Petrov menjelaskan dengan rinci, ia justru mendapat pujian. Jenderal Yury Votinstev (yang kemudian menjabat sebagai komandan Unit Pertahanan Rudal Udara Soviet) adalah orang pertama yang mendengar kasus Petrov dan menyatakan “tindakannya benar” dan “sepatutnya dicatat”.

Meski demikian, ia tak menerima penghargaan apapun saat itu oleh pemerintah Uni Soviet. Kabarnya karena kegagalan sistem pendeteksi yang digunakan Petrov membuat malu para ilmuwan yang membangun mesin tersebut. Ilmuwan-ilmuwan ini kabarnya punya reputasi mentereng di Soviet. Petrov dipindahtugaskan ke pos yang tak setegang di Moskow, kemudian mengajukan pensiun dini. Beberapa sumber mengatakan bahwa Petrov sebenarnya dipaksa pensiun karena mengalami gangguan psikologis sejak kejadian di Serpukhov-15.

Insiden alarm palsu Petrov baru dipublikasikan ke dunia internasional pada awal 1990-an atau era keruntuhan Uni Soviet. Teori bahwa kejadian alarm palsu itu memalukan bagi petinggi Soviet pun semakin kuat. Namun Petrov tak pernah mengonfirmasi teori ini. Setiap kali diwawancarai media, ia seringkali hanya bercerita dalam sudut pandang orang pertama tentang pengalaman paling berharga dalam hidupnya.

Beda di Rusia, beda pula di Amerika Serikat. Publik maupun pemerintah negeri Paman Sam amat mengapresiasi keputusan krusial Petrov sebagai tindakan yang heroik. Ada 21 Mei 2004 Perhimpunan Warganegara Dunia (Association of World Citizen), lembaga non-profit yang berbasis di San Fransisco, menganugerahi Petrov Wolrd Citizen Award berikut trofi dan uang senilai $1.000 “sebagai pengakuan atas peran yang dimainkannya dalam mencegah malapetaka”. Gelar yang sama diberikan pleh PBB dua tahun setelahnya saat Petrov diundang ke New Tork.

Jerman, negeri yang amat pasifis usai kalah di Perang Dunia II, juga menganugerahi Petrov Dresden Preis 2013 di Kota Dresden, Jerman, pada tanggal 17 Februari 2013. Penghargaan tersebut mencangkup hadiah uang sebesar $32.000. Setahun sebelumnya ia juga mendapat German Media Award 2011 dan diserahkan dalam sebuah upacara di Kota Baden-Baden. Penampilannya di sejumlah liputan media berreputasi mentereng hingga di satu film dokumenter membuat nama Petrov kian melambung.

Petrov merasa pengalaman legendarisnya adalah keberuntungan yang besar. Ia adalah satu-satunya petugas di tim pengawas Serpukhov-15 yang mendapat pendidikan sipil. Seluruh koleganya adalah tentara tulen dan profesional yang diajarkan untuk memberi serta mematuhi segala perintah. Oleh karena itu, katanya pada BBC News, ia percaya, jika hari itu yang bertugas bukan dia, maka si pengawas akan segera mengirim laporan serangan dari AS ke petinggi militer Soviet. Laporan yang ia yakini juga akan memicu Perang Dunia ke-3.

Awal 1980-an adalah puncak dari perang dingin antara AS dan Uni Soviet. Perkara kecil berkaitan dengan bidang keamanan dan teritori negara bisa memicu perang nuklir yang dampaknya diprediksi akan mengerikan dan meluas hingga ke negara-negara lain. Perang akan terjadi antara NATO yang mewakili blok kapitalis, dengan negara-negara sosialis yang berhimpun dalam Pakta Warsawa.

Ada banyak bentuk gertakan selain pamer senjata (nuklir) baru. Pada pertengahan Februari 1981 hingga 1983, misalnya, Amerika Serikat melancarkan perang psikologis untuk menguji kerentanan Soviet sekaligus menunjukkan kekuatan militer udaranya. Mereka menerbangkan pesawat pembom beberapa kali per minggu di sekitar teritori Soviet. Soviet juga tak mau kalah. Mereka menembak pesawat penumpang Korea Selatan yang nyasar ke teritori Soviet dan menewaskan 269 orang termasuk anggota Kongres A.S. Larry McDonald dan banyak orang Amerika lainnya.

AS sempat marah besar, namun bisa menahan diri. Kebetulan, peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 1 September 1983. Jika 27 hari setelahnya Petrov salah mengambil keputusan dan Soviet memulai serangan pertama (yang mereka kira serangan balasan), AS diperkirakan akan all-out saat maju perang. Sebagaimana kata Bruce Blair, ahli strategi nuklir AS era Perang Dingin dan mantan ketua Word Security Institute di Washington D.C., di sebuah acara televisi:

“Kukira insiden itu adalah momen paling dekat Amerika Serikat dengan perang nuklir yang disebabkan oleh ketidaksengajaan.”

Petrov menjalani hidup normal hingga ajal menjemputnya pada bulan Mei lalu akibat penyakit pneumonia hipostatik. Akibat satu-dua hal, berita dukanya baru diketahui oleh publik pada pertengahan September ini bulan ulang tahunnya, yang jika sempat ia lalui, akan menjadi perayaan ke-77 - PT Kontak Perkasa
Sumber:tirto.id
Written by: Kontak Perkasa Futures
PT.Kontak Perkasa Futures, Updated at: 3:21 PM
 
Copyright © 2011. PT.Kontak perkasa Futures Yogyakarta All Rights Reserved
Disclaimer : Semua Market Reviews atau News di blog ini hanya sebagai pendukung analisa,
keputusan transaksi atau pengambilan harga sepenuhnya ditentukan oleh nasabah sendiri.
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger