Powered by Blogger.
Latest Post
Showing posts with label Sukarno. Show all posts
Showing posts with label Sukarno. Show all posts

Kejadian-Kejadian Penting dalam Hidup Sukarno di Bulan Puasa

Written By PT Kontak perkasa Futures Yogyakarta on Wednesday, June 14, 2017 | 9:59 AM

PT Kontak Perkasa Futures - Jika harus dimasukkan ke dalam salah satu pengelompokan yang dibuatnya sendiri, Nasakom, Sukarno jelas masuk golongan nasionalis. Sejak muda, dia terlibat pergerakan nasional dan mendirikan partai nasionalis. Sebagian orang di Indonesia pun meragukan keislamannya.

Ada keputusan-keputusannya sebagai presiden yang dianggap tidak bersahabat terhadap kelompok Islam. Membubarkan Partai Masjumi, contohnya. Namun, saat itu bukan hanya Masjumi yang dibubarkan, tetapi juga PSI yang bukan partai Islam.

Menilik latar belakangnya, Sukarno memang tidak lahir dari keluarga dengan keislaman yang kental. Sang ibunda, Ida Ayu Nyoman Rai, adalah seorang penganut Hindu Bali. Ayahnya, menurut Sukarno sendiri, adalah penganut Islam-theosofi. Ketika hendak menikah, ibundanya enggan pindah agama demi perkawinan. Maka, bisa dibilang Sukarno tergolong menjadi seorang Islam lebih karena pilihannya, bukan semata warisan. 

Pengakuan Sukarno Menemukan Islam

Ketika kecil, Sukarno mengaku, dirinya hidup di kalangan orang-orang Islam yang berpuasa di kala bulan Ramadan tiba. Tiap malam di bulan suci itu, dia menyaksikan anak-anak bermain petasan.

“Semua anak-anak melakukannya dan diwaktu itupun mereka melakukannya. Semua, kecuali aku,” aku Sukarno kepada Cindy Adams dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat. Di hari lebaran, Sukarno nampak tak ikut serta. “ kami tak pernah berpesta maupun mengeluarkan fitrah. Karena kami tidak punja uang untuk itu.”

Kisah-kisah itu adalah kisahnya ketika kecil saat dia merasa belum mengenal Islam, tapi percaya ada kekuatan Yang Maha Esa dalam kehidupan. “Aku menemukan sendiri agama Islam dalam usia 15 tahun, ketika aku menemani keluarga Tjokro (HOS Tjokroaminoto),” katanya lagi, seperti ditulis Adams. Namun, itu hanya penemuan yang masih samar. “...belumlah aku menemukan Islam dengan betul-betul dan sungguh-sungguh sampai aku masuk penjara. Didalam penjaralah aku menjadi penganut yang sebenarnya.”

Sukarno pernah berguru pada Tjokro yang pemuka Sarekat Islam sebelum dia kuliah di Bandung, meski Sukarno sendiri memilih ideologi nasionalis-sekuler. Tjokro adalah sosok penting yang membuka mata Sukarno soal Islam. Sebelumnya, “aku tak pernah mendapat didikan agama yang teratur karena bapak tidak mendalam dibidang itu,” kata Sukarno.

Menurut Sukarno, seseorang akan merasa dekat dengan Tuhan dalam kesunyian. Di dalam sunyilah seseorang bisa “memikirkan akan suatu yang tidak ada batasnya dan segala sesuatu yang ada.” Di dalam pengasingan, “kudapati diriku dengan sendirinya bersembahyang dengan tenang.”

Penjara dan pengasingan yang kemudian dialaminya pun bukan lagi hanya sebuah hukuman, tapi jadi semacam pesantren. “Karena dilarang membaca buku-buku yang berbau politik, maka aku mulai mendalami Islam,” akunya. Tentu saja dia membaca Alquran juga, entah dari Inggit, istrinya ketika mengalami pemenjaraan, atau dari kawan sepenjaranya.

“Aku sungguh-sungguh mulai menelan Al Quran ditahun ke-28 (hidupku). Yaitu, bila aku terbangun aku membacanya. Lalu aku memahami Tuhan bukanlah suatu pribadi. Aku menyadari. Tuhan tiada hingganya, meliputi seluruh jagad. Maha Kuasa. Maha Ada. Tidak hanya disini atau disana, akan tetapi dimana-mana.”

Menurut Sukarno, pemerintah kolonial Hindia Belanda yang memenjarakan lalu membuangnya belasan tahun, punya pandangan rendah kepada orang-orang Islam, barangkali juga pada Islamnya. “Orang Belanda memandang kami, orang Islam, sama dengan penjembah berhala.”

Belakangan, opini miring orang-orang Belanda itu terasa aneh bagi Sukarno. “Penyembah berhala atau tidak, aku seorang Islam yang hingga sekarang telah memperoleh tiga buah medali yang tertinggi dari Vatikan. Bahkan Presiden dari Irlandia pun mengeluh padaku bahwa ia hanya memperoleh satu.”
Berpuasa di Bulan Puasa

Sebagai orang Islam, Sukarno berusaha melaksanakan kewajibannya. Dia salat, dia puasa. Dia tak lagi seperti di masa kecilnya. Barangkali dia seperti yang digambarkan Jailani Sitohang dalam buku Gaya Kepemimpinan Sukarno-Suharto (1989). “la berpuasa pada bulan Ramadhan yang diwajibkan Allah, bahkan setiap hari Senin dan Kamis ia melakukan puasa sunat.”

Banyak peristiwa penting dalam sejarah Indonesia yang dilalui Sukarno di bulan puasa, tak terkecuali Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. Juga peristiwa-peristiwa yang dilalui sebelum dan sesudah Proklamasi. Sukarno juga berkunjung ke Dalat, menyambangi Panglima Militer Jepang di Asia, Marsekal Terauchi, saat bulan puasa. Ia juga diculik para pemuda yang ngotot ingin secepatnya Indonesia Proklamasi ke Rengasdengklok di bulan puasa.

Pulang dari Rengasdengklok, dia bergadang di rumah Laksamana Maeda. Setelah urusan teks proklamasi beres, “Sukarno dan Hatta makan sahur dengan roti, telor, dan sardines,” tulis Suhartono Pranoto dalam Kaigun, Angkatan Laut Jepang, Penentu Krisis Proklamasi (2007).

Paginya, meski dalam kondisi tak enak badan dan berpuasa, dia membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di depan rumahnya, Pegangsaan Timur Nomor 56 Jakarta. Tanggal 17 tersebut bertepatan dengan 9 Ramadan tahun 1365 Hijriyah.

Esok harinya, 18 Agustus 1945, hari ke-10 Ramadan, Sukarno mengerjakan hal penting lain. Bersama Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), dia mengesahkan Undang-Undang Dasar yang kemudian dikenal sebagai UUD 1945. Di hari yang sama, dia mulai menjadi Presiden Republik Indonesia. Kabinet pertama pun akhirnya dilantik pada 2 September 1945, hari ke-25 puasa Ramadan.

Bulan puasa tahun berikutnya tak dijalani Sukarno sebagai presiden di Jakarta, karena sejak awal 1946 ibukota sudah pindah ke Yogyakarta. Awal bulan puasa di tahun 1947, tepat hari ke-2 puasa (20 Juli 1947), Belanda sudah mulai bersiap menyerang Republik. Pukul 23.00 malam itu juga, rumah Sukarno di Pegangsaan Timur 1956 diduduki Belanda.

Esoknya, “pegawai-pegawai RI (di daerah yang diduduki militer Belanda) dibujuk untuk ikut Belanda, tapi hampir semua menolak. Mobil-mobil RI yang bertanda X dibeslah (disita), koran-koran RI ditutup,” tulis AH Nasution, Memenuhi Panggilan Tugas: Kenangan Masa Muda (1990).

Sukarno sebagai Presiden yang wilayahnya diserang, tentu saja diuji kesabarannya di bulan puasa itu. Di radio, seperti dicatat Mischa de Vreede dalam bukunya Selamat Merdeka: Kemerdekaan yang Direstui, Sukarno bilang, “berperang terus, biarkan saat ini bulan puasa! Karena Nabi Muhammad juga berperang pada suatu bulan puasa.” Pihak Indonesia tentu tak tinggal diam meski mereka harus puasa. Mereka harus melawan hawa nafsu lawan yang rakus.

Kejutan lain yang dialami Sukarno terjadi lagi pada 9 Maret 1960. Tepat di hari ke-11 Ramadhan 1379 Hijriyah. Ketika itu Sukarno sedang memimpin sidang Dewan Pertimbangan Agung (DPA).

Setelah sempat rehat karena ada suara tembakan, “sidang dilanjutkan lagi, (kemudian) terdengar lagi tembakan yang lebih dasyat ke arah istana. Peserta sidang menjadi panik Akhirnya Bung Karno menghentikan acara sidang,” tulis Muhammad Jasin dalam Memoar Jasin Sang Polisi Pejuang: Meluruskan Sejarah Kelahiran Polisi Indonesia. Sukarno pun menuju ke bagian Istana yang kena tembak. “Tampak lubang-lubang besar pada dinding ruang makan yang rusak berat.”

Setelah diselidiki, ternyata aksi itu adalah ulah Daniel Alexander Maukar, seorang pilot Angkatan Udara yang terkait Permesta. Dia hendak membunuh presiden yang “menurut perkiraannya sedang bersantap siang di ruang tersebut. Perkiraan itu meleset. Karena sidang DPA kali ini diadakan di bulan puasa, tidak ada makan siang. Itu malapetaka besar andaikata sidang itu diselenggarakan bukan pada bulan puasa,” tulis Jasin.

Saat itu, puasa menyelamatkan jiwa Presiden Sukarno dan anggota DPA - PT Kontak Perkasa Futures
sumber:tirto.id
Written by: Kontak Perkasa Futures
PT.Kontak Perkasa Futures, Updated at: 9:59 AM

Sukarno di Antara Natal, Sinterklas Hitam dan Vatikan

Written By PT Kontak perkasa Futures Yogyakarta on Tuesday, December 27, 2016 | 9:43 AM


PT Kontak Perkasa Yogyakarta - Di masa revolusi kemerdekaan Indonesia, Sukarno menyempatkan diri ikut merayakan Natal. Soeharto juga melakukan hal sama. Abdurrahman Wahid, yang hidup ketika kelompok intoleran berjaya, harus menegaskan bahwa Natalan itu juga sebagai perayaan kelahiran Nabi Isa AS.

24 Desember 1947, Sukarno menghadiri peringatan Natal di Gereja Protestan Yogyakarta. Kala itu Yogyakarta menjadi Ibu kota Republik. Letak gereja hanya selemparan batu dari Istana Negara Gedung Agung, tepatnya di sebelah utara istana yang terletak di ujung selatan Jalan Malioboro. 

Saat itu ibu kota Republik Indonesia berada di Yogyakarta. Sukarno datang pada acara menjelang perayaan Natal untuk memberikan sambutan. Situasi masih tidak menentu, terutama karena Agresi Militer Belanda I pada 21 Juli 1947. 

Pada bulan Desember itu, Indonesia dan Belanda sedang bernegosiasi alot. Dibentuklah Komisi Tiga Negara (KTN) yang mewakili masing-masing pihak yang bertikai. Indonesia menunjuk Australia sebagai wakilnya, Belanda memilih Belgia, dan Amerika Serikat dipilih sebagai penengah. 

Sukarno memandang penting untuk dapat menjalin hubungan baik dengan semua pihak, termasuk orang-orang Kristen, baik Protestan dan Katolik, yang ambil bagian dalam revolusi Indonesia. Setidaknya, tokoh Kristen macam Johannes Leimena, Johannes Latuharhary, IJ Kasimo adalah pejabat-pejabat republik. 

Persahabatan Sukarno dan Soegijapranata

Ia juga akrab dengan Mgr. Albertus Soegijapranata (selanjutnya disebut Soegija), orang Indonesia pertama yang menjadi uskup. Pada 1947 yang menentukan itu, Soegijapranata berpidato di Radio Republik Indonesia bahwa umat Katolik di Indonesia akan bekerja sama dan membantu perjuangan para pemimpin republik. 

Ia ingin orang-orang Katolik mampu menyesuaikan diri dengan realitas baru ke-Indonesia-an, menjadi Indonesia, bersamaan dengan menjadi Katolik. Semboyannya: 100% Katolik, 100% Indonesia. Pilihannya memindahkan keuskupan dari Semarang ke Yogyakarta mesti dibaca bahwa ia tak netral dalam konflik Indonesia-Belanda. Pindah ke Yogakarta, ibukota Republik Indonesia, adalah sinyal keberpihakannya kepada kaum republik.

Soegija juga berkorespondensi dengan pihak Vatikan, termasuk melaporkan situasi politik di Indonesia. Pada Desember 1947 itu, Vatikan mengirim utusan bernama Georges d'Ardoye, kunjungan yang memulai dibukanya hubungan diplomatik Indonesia dengan Vatikan.

Kedatangan d’Ardoye sebagai utusan resmi Vatikan di Indonesia, bahkan tinggal di Indonesia bertahun-tahun kemudian, yang membuat Vatikan dianggap sebagai salah satu “negara” yang paling awal mengakui kedaulatan Indonesia. 

Namun, ini akan menjadi debat yang lain, cukuplah dikatakan: Vatikan sudah membuka hubungan diplomatik, dan dengan demikian memberi pengakuan (tersirat atau pun tersurat) pada kedaulatan Indonesia. Sebagai catatan, Belanda sebagai penjajah Indonesia lebih identik dengan Protestan.

Inilah yang membuat Sukarno amat menghargai Soegija. Di kemudian hari mereka menjadi lebih akrab. 

Soegija meninggal pada 22 Juli 1963 di Belanda, tak lama setelah menghadiri pemilihan Paus di Vatikan. Sukarno merasa sangat kehilangan. Ia tak ingin Soegija dimakamkan di Belanda. Jenazah Soegija dibawa ke Jakarta dengan pesawat khusus atas permintaan Sukarno. Pada 26 Juli 1963, Sukarno menandatangani Keppres No. 152/1963 yang berisi pengangkatan Soegija sebagai pahlawan nasional.


Politik Anti-Belanda dan Sinterklas Hitam

Kendati demikian, Sukarno pernah mengambil keputusan politik yang dikenal sebagai “Sinterklas Hitam”. Ia melarang perayaan yang sudah lama menjadi tradisi di negeri Belanda, dan juga sudah dipraktikkan orang-orang Belanda di Indonesia, yaitu Hari Sinterklas, yang biasa dirayakan setiap 5 Desember.

Orang Belanda percaya Sinterklas datang dari Spanyol. Di Hindia Belanda, “sosok” Sinterklas yang tiba di Batavia akan dijemput wali kota Batavia, lalu diarak keliling kota. Setiap instansi pemerintah dan perusahaan Belanda merayakan Hari Sinterklas. 

Setelah Proklamasi, bahkan setelah penyerahan kedaulatan pasca Konferensi Meja Bundar 1949, orang-orang Belanda, maupun Indo-Belanda, masih banyak yang tinggal di Indonesia. Mereka tetap melanjutkan perayaan Hari Sinterklas pada 5 Desember.

Pada 1957 itu, hubungan Indonesia-Belanda sangat panas. Isu Irian Barat menjadi topik utama, dipicu kegagalan Indonesia mendapatkan dukungan di Sidang PBB dalam isu Irian Barat pada bulan November. Sukarno memulai kampanye nasionalisasi. Dia pun menekan pemerintah Belanda dengan mengusir orang-orang Belanda di Tanah Air. 

Salah satu yang menjadi sasaran adalah Hari Sinterklas. Bung Karno melarang keras perayaan tersebut walau pun ia pernah menerima kedatangan “sosok” Sinterklas di Istana Negara pada 1955. Namun itu tak berlaku lagi pada 1957. Tak ada arak-arakan Sinterklas.

Kendati mengejutkan, juga menghebohkan, namun reaksi umat Kristiani di Indonesia tidak terlalu keras. Kendati terkait perayaan Natal, namun Hari Sinterklas lebih dipandang sebagai tradisi Belanda ketimbang ritual peribadatan. 

“Seandainya Sukarno melarang pesta Natal, nah, barulah orang Kristen patut marah,” tulis Frieda Amran dalam bukunya  Jakarta 1950an.

Menghargai Kristiani dan Dihargai Vatikan

Peristiwa Sinterklas Hitam itu terjadi hanya kurang dua tahun dari kunjungan Sukarno ke Vatikan. Pada Juni 1956, Sukarno berkunjung ke Vatikan. Presiden pertama Indonesia ini diterima langsung oleh Paus Pius XIII pada 13 Juni 1956.

Tiga tahun berselang dari kunjungan pertama, Sukarno kembali berkunjung ke Vatikan. Ia tiba di Vatikan pada 14 Mei 1959. Paus Yohanes XXIII sendiri yang langsung menerima kedatangan Sukarno saat itu. 

Tidak cukup dengan dua kunjungan tersebut, pada 1964 Sukarno kembali bertandang ke Vatikan. Pada kunjungannya yang ketiga dan terakhir ke Vatikan ini, kurang setahun dari terjadinya peristiwa berdarah 1 Oktober 1965, Sukarno diterima langsung oleh Paus Paulus VI pada 12 Oktober 1964.

Pada kunjungan terakhirnya ini, pihak Vatikan bahkan membuatkan prangko khusus untuk Sukarno. Tak hanya itu, Vatikan juga menghadiahi Sukarno dengan sebuah cenderamata berupa lukisan mosaik Castel san Angelo Vatican. 

Dalam delapan tahun, Sukarno bahkan berkunjung tiga kali! Lebih istimewa lagi, Sukarno disambut oleh Paus yang berbeda-beda yaitu Paus Yohanes XXIII, Paus Pius XIII dan Paus Paulus VI. Ini bukan jumlah kunjungan yang biasa, apalagi mengingat Sukarno sendiri seorang muslim, sekaligus pemimpin sebuah negara dengan jumlah muslim terbesar di dunia.

Pada setiap kunjungan tersebut, Sukarno menerima medali penghargaan tertinggi dari Vatikan. Dan Si Bung Besar bangga dengan hal itu.

Dalam otobiografi yang ditulis Cindy Adams, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat, Sukarno berkata:  “Bahkan Presiden Irlandia pun mengeluh padaku bahwa dia hanya memperoleh satu.  lanjut Bung Karno.”

Presiden Irlandia, Éamon de Valera, negeri Katolik yang bahkan rela “membangkang” terhadap kerajaan Inggris karena -- salah satunya-- motif keagamaan ini, malah hanya menerima satu medali. 

“Saya saja hanya punya satu penghargaan dari Vatikan. Saya iri dengan Anda,” keluh De Valera, sebagaimana dituturkan Sukarno kepada Cindy Adams.

Bagi Romo Y.B. Mangunwijaya, medali yang diberikan langsung oleh Paus di Vatikan ini bukan semata karena Sukarno berkunjung ke Roma belaka. Lebih dari itu, Sukarno dianggap prototipe pemimpin yang dapat mengayomi setiap kelompok, termasuk berbagai agama. 

Pancasila dianggap sebagai jasa besar Sukarno yang membuat Indonesia, setidaknya pada saat itu, bisa menjadi contoh yang bagus bagaimana kehidupan antar umat beragama dapat berlangsung - PT Kontak Perkasa

Written by: Kontak Perkasa Futures
PT.Kontak Perkasa Futures, Updated at: 9:43 AM
 
Copyright © 2011. PT.Kontak perkasa Futures Yogyakarta All Rights Reserved
Disclaimer : Semua Market Reviews atau News di blog ini hanya sebagai pendukung analisa,
keputusan transaksi atau pengambilan harga sepenuhnya ditentukan oleh nasabah sendiri.
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger