Powered by Blogger.
Latest Post
Showing posts with label sejarah. Show all posts
Showing posts with label sejarah. Show all posts

Simpang-Siur Temuan Situs Kota Rasul Kristen di Palestina

Written By PT Kontak perkasa Futures Yogyakarta on Friday, September 8, 2017 | 2:27 PM

PT Kontak Perkasa - Palestina adalah negara dengan sejarah panjang yang dibangun dari reruntuhan peradaban kuno bangsa Yahudi. Di atasnya berdiri kerajaan dari Herodus yang Agung, juga kerajaan Raja Sulaiman. Temuan terbaru dari tim arkeolog yang beranggotakan geolog dan arkeolog diduga menemukan Kota Julias, rumah dari rasul-rasul Petrus, Andreas, dan Filipus.

Meski demikian tim arkeolog yang diwakili oleh Steven Notley, profesor Perjanjian Baru dan Asal-Usul Kristen dari Nyack College yang menjabat sebagai direktur akademik penggalian el-Araj membantahnya dalam email kepada National Geographic.

“Kami tidak menulis headline itu,” tulisnya.

Kisah penemuan di el-Araj itu menjadi sensasi publik karena surat kabar lokal dan situs online Israel, Haaretz. Judul berita tersebut menyebut para tim arkeolog telah menemukan kota para rasul. Berita tersebut kembali memantik perdebatan tentang kota dalam Perjanjian Baru yang dianggap sangat penting dalam tradisi Kristen.

Sejak 1839, sebuah situs di dekat e-Tell, dekat Tepi Barat Palestina, diidentifikasi sebagai kota kuno Betsaida. The Bethsaida Excavations Project, sebuah kolektif proyek arkeologis, telah melakukan penggalian di sekitar e-Tell sejak 1987 dan menemukan banyak benda Zaman Besi, juga beberapa pemukiman era Hellenistik, dan perumahan sezaman dengan kekaisaran Roma. Betsaida adalah rumah para rasul dan tempat Yesus menyembuhkan orang buta.

Situs ini terletak di pantai utara Laut Galilee, bukit Bethsaida Nature Reserve, dan berada 211 meter di bawah lapisan tanah yang lebih rendah daripada permukaan laut. El-Araj jelas tidak berada di bawah air saat kekaisaran Roma masih berkuasa. Geolog Prof. Noam Greenbaum dari Haifa University dan Dr. Nati Bergman dari Yigal Alon Kinneret Limnological Laboratory, mempelajari bahwa kota itu tenggelam dan berada di bawah tanah karena aliran lumpur serta lempung yang terbawa dari sungai Yordania.

Dalam Yohanes 1:44 disebutkan bahwa Petrus, Andreas dan Filipus berasal dari sebuah kota di Betsaida. Temuan kota di el-Araj yang diduga Kota Julias yang hilang ini melengkapi temuan lain di Palestina, seperti makam Yesus dan kompleks istana Herodus.

Sejarawan Yahudi, Josephus Flavius, menyebut bahwa ada sebuah kota yang dibangun dari Betsaida oleh keturunan dari Raja Herodus pertama. Bukti bahwa temuan ini adalah el-Araj adalah kamar mandi modern bergaya Roma. Kamar mandi ini dijadikan indikasi bahwa ada sebuah kota di utara Galilee dan bukan sekedar perkampungan nelayan.

Hal serupa juga disampaikan oleh Dr. Mordechai Aviam dari Kinneret College kepada Haaretz. Ia menyebut kamar mandi modern tidak mungkin ada di perkampungan nelayan miskin. Karenanya, temuan itu mengindikasikan pernah ada kota besar di sana.

Namun, setiap klaim arkeologis perlu pembuktian seperti usia situs dan temuan benda-benda yang diklasifikasikan berdasarkan era. Dalam hal ini, temuan el-Araj harus menunggu penelitian laboratorium untuk menentukan usia pasti situs serta inventarisasi benda temuan untuk menyesuaikan zaman ketika kota itu dibangun.

Kota ini, menurut Aviam, disebut Julias sebagai penghormatan terhadap Livia Drusilla, yang setelah menikah dikenal sebagai Julia Augusta, ibu dari kaisar Roma Tiberius.

“Josephus melaporkan bahwa raja Herodus II membangun Betsaida dari sebuah desa menjadi kota besar, kota yang layak,” kata Aviam. Ia tidak menyebutkan apakah ia dibangun di atas atau di sekitar Betsaida. "Yang jelas, selama ini kita tidak tahu di mana kota ini berada. Namun, kamar mandi yang ada merupakan bentuk kebudayaan urban,” katanya.

Laporan lain di Haartez menyebut selama ini ada beberapa temuan arkeologis yang diduga sebagai sebagai Julias. Pertama, temuan di el-Araj, sementara dua yang lain berada di dekat danau di daerah pendudukan Palestina. Namun, temuan kamar mandi dan berbagai benda-benda bernuansa era Roma menjadikan el-Araj sebagai kandidat terkuat kota Julias.

Selain kamar mandi, ditemukan juga berbagai pecahan tembikar dari abad ke satu dan ketiga, mosaik. Dua koin juga ditemukan, satu koin perunggu yang berasal dari akhir abad kedua dan koin perak yang menggambarkan Kaisar Nero dari tahun 55-66 Masehi.

Namun, ada yang meragukan temuan ini sebagai Kota Julias. Jodi Magness, arkeolog dan peraih beasiswa National Geographic, mengatakan: meski ditemukan banyak peradaban zaman besi di Betsaida, temuan periode kekaisaran Roma di sana sangat sedikit. Oleh karena itu, situs itu mustahil menjadi pusat peradaban urban. Sementara itu, Rami Arav, direktur Bethsaida Excavations Project at e-Tell, kepada National Geographic mengatakan temuan di el-Araj belum cukup untuk menyimpulkan bahwa tempat itu adalah kota yang disebut dalam Alkitab.

Di Palestina, temuan situs bersejarah bisa jadi berkah dan kutukan sekaligus. Jonathan Cook, jurnalis asal Inggris yang menulis tentang konflik Palestina-Israel, mengatakan banyak situs bersejarah di Palestina yang memiliki kaitan dengan sejarah Yahudi digunakan untuk kepentingan propaganda.

Cook menulis untuk The Electronic Intifada pada September 2008, yang menyebut bahwa pemerintah Israel menggunakan alasan penggalian situs budaya untuk menyingkirkan penduduk Palestina. Cook juga menyebut, jika ada warga Palestina yang menolak atau melayangkan protes terhadap ini, polisi Israel akan melakukan penangkapan terhadap mereka. Pola ini selalu berulang dan terjadi di tempat yang dianggap sebagai lokasi bersejarah.

Pada 2010, Perdana menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan bahwa Masjid Ibrahimi atau Tomb of the Patriarchs di Hebron dan Masjid Bilal/Rachel’s Tomb di luar Bethlehem sebagai warisan budaya nasional Israel. Sarah Irving, penulis dan pengamat hak asasi manusia di Palestina, menyebut usaha ini penting sebagai bagian membentuk narasi bahwa Israel sebagai negara Yahudi memiliki akar sejarah di Palestina - PT Kontak Perkasa
Sumber:tirto.id



Written by: Kontak Perkasa Futures
PT.Kontak Perkasa Futures, Updated at: 2:27 PM

Siasat Kesultanan Siak Menandingi Belanda

Written By PT Kontak perkasa Futures Yogyakarta on Monday, July 31, 2017 | 2:04 PM

PT Kontak Perkasa - Tahun 1864, Kesultanan Siak Sri Inderapura yang berpusat di Riau punya pemimpin baru, Sultan Assyaidis Syarif Kasim Abdul Jalil Syarifuddin atau Sultan Syarif Kasim I. Namun, sang sultan harus menerima kenyataan bahwa kerajaan yang dipimpinnya tidak bisa lagi bergerak leluasa karena kekuasaan pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Keterjepitan itu setidaknya sudah muncul sejak era Sultan Assyaidis Syarif Ismail Abdul Jalil Syarifuddin atau Sultan Said Ismail (1827-1864). Pada 1 Februari 1858, ayahanda Sultan Syarif Kasim I terpaksa menandatangani Traktat Siak yang isinya sangat menguntungkan Belanda (Sapardi Djoko Damono & Marco Kusumawijaya, Siak Sri Indrapura, 2005:71).

Traktat Siak, Siasat Belanda

Traktat Siak adalah konsekuensi keputusan Sultan Said Ismail yang meminta bantuan Belanda untuk mengusir Inggris dari wilayah kekuasaan Kesultanan Siak Sri Inderapura. Belanda menyanggupi permintaan tersebut, tapi tentunya tidak gratis. Dan ternyata, Inggris berhasil diusir.

Tibalah saatnya Belanda menagih balas jasa kepada Sultan Said Ismail. Diwakili oleh Residen Riau, J.F. Niewenhuyzen, ada dua poin besar yang dituntut Belanda dalam kontrak politik bertajuk Traktat Siak itu (Yuli S. Setyowati, Sejarah Riau, 2004: 217).

Pertama, Belanda mengakui hak otonomi Siak secara terbatas, yakni hanya wilayah asli milik Kesultanan Siak Sri Inderapura (di luar daerah taklukan). Kedua, Belanda meminta 12 daerah taklukan Siak, meliputi Kota Pinang, Pagarawan, Batu Bara, Badagai, Kualiluh, Panai, Bilah, Asahan, Serdang, Langkat, Temiang, serta Deli.

Belanda benar-benar menggunakan pengaruhnya untuk membatasi gerak Kesultanan Siak Sri Inderapura. Dengan ditandatanganinya Traktat Siak berarti kekuasaan kolonial di Siak telah dimulai karena Kesultanan Siak Sri Inderapura dinyatakan bernaung di bawah Kerajaan Belanda (Adila Suwarno, dkk., Siak Sri Indrapura, 2007:71).

Alhasil, penerusnya, Sultan Syarif Kasim I, dihadapkan kepada situasi yang sama karena masih terikat Traktat Siak dengan Belanda. Namun, sultan muda ini punya cara jitu untuk setidaknya menunjukkan Kesultanan Siak Sri Inderapura masih punya cara untuk menjaga kehormatan meski ruang geraknya dibatasi.
Sultan Peletak Modernisasi Siak

Sultan Syarif Kasim I sadar betul ada risiko dan pertaruhan besar jika ia menggerakkan Kesultanan Siak Sri Inderapura untuk melawan Belanda secara frontal. Selain kalah dari sisi yuridis lantaran masih berlakunya Traktat Siak, Belanda juga jauh lebih unggul dari segi kekuatan militer dan modal. Maka dari itu, dicarilah siasat lain agar marwah Kesultanan Siak Sri Inderapura tidak semakin melemah.

Kerap berinteraksi dengan orang-orang Belanda justru menghasilkan berkah tersendiri bagi Sultan Syarif Kasim I. Ia menyadari Belanda bisa menjadi kuat lantaran punya visi yang jelas dan mampu beradaptasi dengan kemajuan zaman.

Ketimbang memikirkan strategi berperang melawan Belanda, Sultan Syarif Kasim I lebih fokus untuk menuntun Kesultanan Siak menuju era modern. Pembangunan digalakkan dalam pelbagai sektor kehidupan, dari pemerintahan, ekonomi, pendidikan, seni dan budaya, hingga pembangunan secara fisik.

Salah satu bangunan megah yang berdiri pada era pemerintahan Sultan Syarif Kasim I adalah Masjid Raya Syahabuddin (Abdul Baqir Zein, Masjid-masjid Bersejarah di Indonesia, 1999:80). Masjid ini menjadi salah satu simbol kemajuan Kesultanan Siak Sri Inderapura di tengah pengawasan pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Madrasah Pesaing Sekolah Belanda


Pondasi kehidupan modern yang ditanamkan oleh Sultan Syarif Kasim I kemudian dilanjutkan oleh sultan-sultan Siak Sri Inderapura setelahnya, terutama pada masa kepemimpinan Sultan Assyaidis Syarif Kasim Sani Abdul Jalil Syarifuddin atau Sultan Syarif Kasim II (1908-1946), cucu Sultan Syarif Kasim I.

Selain pembangunan fisik, kualitas sumber daya manusia tentu juga sangat penting. Dan itu amat disadari oleh Sultan Syarif Kasim II yang berpandangan bahwa orang Belanda mampu melangkah lebih jauh salah satunya berkat faktor kecerdasan. Hal macam ini bisa diperoleh melalui pendidikan yang baik.

Sultan Syarif Kasim II tentu saja ingin masyarakat Siak nantinya memiliki sumber daya manusia yang mumpuni. Langkah awal yang dilakukannya dengan mendirikan sekolah dasar untuk menandingi Belanda yang sudah jauh-jauh hari mempunyai Hollandsche Inlandsche School (HIS).

Sultan Syarif Kasim II punya alasan kuat sebelum mendirikan sekolah sendiri. Ia kecewa terhadap kebijakan Belanda mengenai HIS. Tak sembarang kalangan bisa mengenyam pendidikan di sekolah tersebut. Selain anak-anak Eropa dan peranakan Tionghoa, hanya anak bangsawan, orang kaya atau terkemuka dari golongan pribumi saja yang boleh masuk HIS. Ini membuat segelintir putra Siak memperoleh kesempatan pendidikan terbaik.

Selain itu, kurikulum HIS tak sesuai dua unsur utama yang sangat dipegang teguh oleh sultan: agama (Islam) dan nasionalisme. Karena itu sultan memprakarsai pendirian Madrasah Taufiqiyah al Hasyimiah (Suwardi Mohammad Samin, Sultan Syarif Kasim II: Pahlawan Nasional dari Riau, 2002:66).

Akhirnya, sekolah dasar ala Kesultanan Siak Sri Inderapura berdiri pada 1917, diperuntukkan bagi anak laki-laki dengan masa pendidikan selama 7 tahun. Selain untuk memperdalam ajaran Islam, Madrasah Taufiqiyah al Hasyimiah mengajarkan ilmu-ilmu pengetahuan umum.

Para Permaisuri pun Beraksi

Jika Madrasah Taufiqiyah al Hasyimiah adalah sekolah untuk anak-anak laki-laki, ada pula sekolah untuk anak perempuan. Sebagai pelopornya adalah permaisuri Sultan Syarif Kasim II, yakni Tengku Agong (Tengku Agung) atau yang bergelar Syarifah Latifah. Sekolah ini kemudian dinamakan Latifah School.

Syarifah Latifah tergerak mendirikan sekolah bukan hanya ia adalah permaisuri Sultan Syarif Kasim II. Ia sendiri yang punya gagasan tersebut setelah mendampingi sultan mengunjungi daerah di luar Siak, seperti saat menghadap Residen Sumatera Timur di Medan, juga ke Langkat atau Tanjungpura (Ahmad Yusuf, Sultan Syarif Kasim II: Raja Terakhir Kerajaan Siak Sri Indrapura, 1992:169).

Sang permaisuri melihat masyarakat di dua kota itu lebih modern ketimbang Siak, termasuk dalam hal emansipasi wanita. Tidak sedikit perempuan pribumi yang menjalani profesi selayaknya kaum pria, juga memakai pakaian ala Barat. Hal seperti ini masih sangat sulit diterima oleh masyarakat Siak.

Sepulang dari kunjungan tersebut, Syarifah Latifah berinisiatif menggagas sekolah untuk perempuan pertama di Siak, bahkan di Riau. Berdirilah sekolah kepandaian putri Latifah School, antara 1926 atau 1928 (Wilaela, Sultanah Latifah School di Kerajaan Siak, 2014:130). Sayang, Syarifah Latifah tidak lama mengurusi sekolah yang digagasnya itu. Belum genap setahun Latifah School berdiri, sang permaisuri meninggal dunia.

Perjuangan belum usai. Permaisuri kedua Sultan Syarif Kasim II, yakni Tengku Maharatu, melanjutkan kiprah Syarifah Latifah dengan mengurusi Latifah School. Ia juga berinisiatif membangun asrama putri bernama Istana Limas untuk menampung anak-anak yatim piatu yang disekolahkan di Latifah School.

Tengku Maharatu menggagas pula pendirian sekolah untuk perempuan yang tak cuma mempelajari seputar keterampilan seperti yang diajarkan di Latifah School, melainkan sekolah untuk mempelajari ilmu pengetahuan umum.

Maka, berdirilah Madrasyahtul Nisak, sekolah khusus untuk perempuan yang setara sekolah dasar macam HIS atau Madrasah Taufiqiyah al Hasyimiah. Selain itu, Tengku Maharatu menggagas sekolah taman kanak-kanak (Adila Suwarno, dkk., 2005:73).

Siasat cerdas melalui jalan pendidikan oleh keluarga Kesultanan Siak Sri Inderapura itu terbukti ampuh dan bertahan lama. Sultan Syarif Kasim II pun sanggup mempertahankan statusnya sebagai Sultan Siak bahkan hingga Indonesia merdeka pada 1945.

Jauh sebelum meninggal dunia pada 1968, Sultan Syarif Kasim II telah menyerahkan wilayah Kesultanan Siak Sri Inderapura kepada pemerintah Republik Indonesia. Wilayah Siak Sri Inderapura pun meleburkan diri sebagai bagian dari Republik Indonesia dan kini termasuk wilayah administratif Provinsi Riau - PT Kontak Perkasa
Sumber:tirto.id
Written by: Kontak Perkasa Futures
PT.Kontak Perkasa Futures, Updated at: 2:04 PM
 
Copyright © 2011. PT.Kontak perkasa Futures Yogyakarta All Rights Reserved
Disclaimer : Semua Market Reviews atau News di blog ini hanya sebagai pendukung analisa,
keputusan transaksi atau pengambilan harga sepenuhnya ditentukan oleh nasabah sendiri.
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger